Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum
Universitas Muhammadiyah Malang
Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum
Universitas Muhammadiyah Malang

Rubik Konsultasi Hukum Gugat Cerai, DI Tuduh Mencuri

GUGAT CERAI, TAPI DITUDUH MENCURI

Pertanyaan

 

Assalamu’alaikum WrWb.

 

Saya seorang ibu rumah tangga sebut saja Kartini (40) tinggal di Malang Selatan. Diawal tahun 2006 rumah tangga saya mengalmi ketidak harmonisan yang akhirnya suami saya mengajukan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama Kabupaten Malang. Perkara cerai sudah dikabulkan oleh pengadilan dan kini mantan suami saya mengajukan gugatan kepemilikan harta gono-gini dan hak pengasuhan anak dan belum ada keputusan sampai saat ini. Saya dan mantan suami saya sudah tidak tinggal serumah lagi. Dalam proses gugatan tesebut rumah yang merupakan hasil dari perkawinan kita dikuasai oleh suami saya. Bulan Oktober 2006 saya hendak mengambil barang milik saya di rumah kami yang terletak di Jl. Agus Salim No.245 Kab.Malang. karena kunci rumah dibawa oleh mantan suami saya, maka saya masuk dengan merusak kunci rumah. Dan setelah kejadian itu saya dilaporkan melakukan pencurian dan perusakan oleh mantan suami saya ke pihak kepolisian.

Dari situ saya mohon penjelasan mengenai tuduhan dan pencurian yang dituduhkan oleh mantan suami saya. Terimakasih.

 

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

 

Kartini, Malang.

 

Jawab

 

Walaikumsalam Wr.Wb.

 

Pernikahan memang peristiwa yang menyenangkan dan sangat indah ketika kita baru saja melakoninya. Namun kadang bahtera kita tidak selalu mulus dan langgeng dalam mencapai tujuan rumah tangga kita. Cerai adalah salah satu dari ujung pernikahan yang selalu saja menimbulkan lebih banyak lagi permasalahan. Masalah yang sering timbul diantaranya perebutan harta gono-gini, perebutan anak, nafkah anak dll. Dari cerita ibu Kartini, ada beberapa hal yang perlu segera diselesaikan. Yang pertama mengenai harta yang diperoleh pada saat setelah perkawinan atau sering disebut dengan istilah harta gono-gini. Pada pasal 37 undang-undang no. 1 tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Artinya di Indonesia terdapat beberapa hukum yang di pakai dalam menyelesaiakan masalah harta hasil perkawinan yaitu hukum Islam, hukum Adat dan hukum Perdata (Nasional). Namun pada dasarnya sama.

Mengenai rumah yang ada di jl. Agus Salim No.245 yang merupakan harta hasil perkawinan antara ibu Kartini dan mantan suami ibu adalah masih milik bersama sebelum salah satu mengajukan gugatan pembagian harta bersama ke Pengadilan. Sehingga pengadilan menetapkan mengenai pemilikan harta tersebut.

Sebelum akhil baligh (12 th) seorang anak akan diberikan hak asuh kepada ibu kandungnya, hal ini berkaitan dengan bentuk kasih sayang dan perhatian seorang ibu akan dipandang lebih daripada suami. Namun ketika kehidupan pribadi dan lingkungan sang ibu tidak baik untuk perkembangan anak maka pengadilan bisa memutuskan lain. Dan jika anak sudah menginjak usia dewasa (18 th) maka, keputusan pengasuhan akan tergantung dari anak itu sendiri.

            Tuduhan mantan suami ibu yang melaporkan bahwa ibu kartini telah melakukan pencurian dan perusakan barang milik mantan suami ibu adalah tidak berdasar. Hal ini dikarenakan belum ada keputusan mengenai pembagian harta gono-gini antara ibu dengan mantan suami ibu. Sehingga kedudukan harta adalah masih milik bersama. Karena apa yang dilaukan ibu tidak memenuhi unsur-unsur puidada sesuai pasal 362 dan 406 KUHP. Karena dalam pasal 362 maupun 406 menyebutkan barang yang di curi dan di rusak harus milik orang lain. Jadi tidak ada alasan mantan suami ibu untuk melaporkan ibu ke kepolisian.

            Demikian tanggapan dari kami semoga ibu tabah dan sabar dalam menghadapi kasus ini.

 

TIM  (BKBH) Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum

law_corner@yahoo.com

Shared: