Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum
Universitas Muhammadiyah Malang
Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum
Universitas Muhammadiyah Malang

Rubik Konsultasi Hukum Cerai Karena Suami Menikah Lagi

Cerai Karena Suami Menikah Lagi

 

Kepada Yth, Pengasuh Rubrik Konsultasi Hukum Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) UMM. Dengan mengirim surat ini saya ingin diberikan solusi hukum atas kasus yang sedang saya alami saat ini.

Saya seorang istri yang telah menjalani usia perkawinan dengan suami saya sampai tahun yang ke sebelas saat sekarang. Sebenarnya perkawinan kami cukup bahagia, meskipun kami belum dikaruniai anak kandung seorangpun. Tentang anak, sebenarnya kami punya banyak anak asuh yang yang tinggal bersama kami. Namun sejak beberapa bulan yang lalu hingga saat saya mengetahui bahwa suami saya tenyata mempunyai istri lagi, maka sejak saat itu pula rumah tangga kami menjadi berantakan. Sangat susah bagi saya mempertahankan keutuhan rumah tangga kami, meskipun sudah saya coba selama satu setengah tahun untuk bersabar dan bertahan terhadap kondisi rumah tangga saya tersebut. Saya tidak dapat menerima perlakuan suami saya tersebut dan saya ingin bercerai saja. Saya dan suami lebih banyak saling diam dan jarang sekali komunikasi. Yang ingin saya tanyakan:

  1. Apakah dengan suami punya istri lagi dapat dijadikan alasan untuk bercerai di KUA?
  2. Bagaimana terhadap anak-anak kami (umur 3 dan 8 tahun), bisakah mereka menjadi hak saya untuk merawatnya/hidup bersama saya, mengingat kalau mereka ikut suami, saya takut tidak terurus.

 

Dari Ny Dewi di Batu.

 

 

Jawaban:

 

Ibu Dewi Yth, sebelumnya kami juga ikut prihatin atas kondisi ibu, namun yakinlah bahwa segala cobaan itu pasti mengandung hikmah. Perlu diketahui oleh ibu bahwa perceraian itu dilakukan di Pengadilan, baik Pengadilan Negeri (PN) maupun Pengadilan Agama (PA), bukan di KUA sebagaimana yang ibu ketahui. Untuk orang Islam /muslim perceraian dilakukan di PA sedangkan selain muslim di PN. Untuk memudahkan suatu perceraian dilakukan di PN atau PA maka dapat dilihat dari bagaimana/dimana pernikahannya atau perkawinanya dahulu dilakukan. Jika pernikahannya dilakukan di KUA maka perceraiannya dilakukan di PA, meskipun salah satu pihak (suami/istri) atau kedua-duanya telah pindah agama (tidak Islam lagi), sedangkan untuk pernikahan yang dicatat oleh/di Catatan Sipil perceraian dilakukan di PN. Kemudian terhadap alasan perceraian dikarenakan suami telah kawin lagi memang tidak terdapat dalam aturan perundang-undangannya (UU No. 1 tahun 1974, PP No.9 Tahun 1975 dan INPRES No.1 Tahun 1991), namun ibu dapat mengajukannya dengan alasan adanya perselisihan yang terus menerus antara suami istri dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga (pasal 19 (f) PP No. 9 Tahun 1975, pasal 116 (f) Inpres No.1 Tahun 1991, serta penjelasan UU No. 1 tahun 1974), yang mana perselisihan tersebut disebabkan karena suami ternyata telah menikah lagi. Perlu dipahami bahwa tidak adanya komunikasi antara ibu dan suami ibu tersebut juga dapat dikategorikan sebagai perselisihan, dan sebuah rumah tangga jelas-jelas tidak akan dan tidak bisa harmonis jika tidak ada komunikasi. Dalam hukum Islam perselisihan atau pertengkaran terus-menerus tersebut disebut dengan istilah syiqoq.

Terhadap keberadaan anak-anak ibu, maka yang dimaksud ibu adalah hak hadlonah (hak untuk mengasuh, memelihara dan mendidik anak) kebetulan anak-anak ibu masih dibawah 12 tahun, menurut hukum Islam pula bahwa anak ibu belum mumayyiz (dewasa), sehingga hak hadlonah tersebut jelas-jelas jatuh ke tangan ibu, namun biaya terhadap anak/nafkah hadlonah tetap ada di tangan bapaknya/suami ibu sesuai dengan kemampuan suami ibu, sampai si anak dewasa dan mampu mengurus dirinya sendiri. Namun perlu diingat dan dipahami oleh ibu, bahwa meskipun ibu mendapat hak hadlonah, ibu jangan sampai melarang bapaknya anak-anak/suami ibu untuk bertemu atau berhubungan dengan anak-anak, karena suami ibu tetap sebagai bapaknya anak-anak ibu juga, meskipun nanti ibu sudah tidak/bukan lagi sebagai istri bapaknya anak-anak.

Demikian jawaban dan penjelasan kami, terima kasih.

 

Tim BKBH

(Luluk Ifayah, SH.,SHI; Aris BC, SH; Teguh A; Wahyudi K; Salman AP)              

  

Shared: