Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum
Universitas Muhammadiyah Malang
Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum
Universitas Muhammadiyah Malang

Rubik Konsultasi Hukum Korban KDRT Tida Mau Melapor

KORBAN KDRT TIDAK MAU MELAPOR

 

Assalamu’alaikum, Wr.Wb. Pengasuh rubrik konsultasi hukum yang saya hormati, saya Ibu Linda dari Surabaya. Saya ingin menanyakan permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh adik saya, sebut saja namanya RN. Saat ini RN sedang mengalami permasalahan rumah tangga dengan suaminya. Beberapa bulan ini,  RN sering bertengkar dengan suaminya. Setiap terjadi pertengkaran, RN selalu mengalami kekerasan oleh suaminya. Yang menjadi masalah buat kami sekeluarga adalah  RN tidak mau mengaku telah mengalami penyiksaan. RN juga tidak mau melapor ke polisi sebagai korban KDRT. Padahal, secara kasat mata terlihat adanya bekas-bekas penyiksaan tersebut, seperti memar dan lebam pada tubuh RN.

Pengasuh yang kami hormati, yang ingin saya tanyakan adalah, sebagai saudara apakah yang dapat kami lakukan untuk membantu agar penyiksaan tersebut tidak berlanjut? Demikian, atas jawaban dan saran pengasuh, kami sampaikan terimakasih. Wassalamu’alaikum, Wr.Wb.

 

Jawaban :

Wa’alaikum salam, Wr.Wb. Ibu Linda yang kami hormati, kami turut prihatin atas permasalahan yang menimpa ibu RN. Perlu kami sampaikan bahwa  kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (lihat Pasal 1 ayat [1] UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

Kekerasan fisik merupakan salah satu bentuk dari KDRT, sebagaimana diatur dalam Pasal 5 huruf (a) UU KDRT. Pada kasus yang menimpa Ibu RN, kita harus lihat dahulu apakah kekerasan yang dialami oleh Ibu RN tergolong kekerasan fisik ringan atau berat. Kekerasan fisik ringan adalah kekerasan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari. Sedangkan kekerasan fisik yang tergolong berat adalah apabila menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari.

Apabila kekerasan yang dialami oleh Ibu RN masih tergolong ringan, maka yang dapat melaporkan secara langsung adanya KDRT kepada polisi adalah korban. Dalam UU KDRT, kekerasan fisik ringan termsuk dalam jenis delik aduan (lihat Pasal 51).  Oleh karena itu keluarga atau pihak lain tidak dapat melaporkan secara langsung adanya dugaan KDRT, kecuali telah mendapat kuasa dari korban (lihat Pasal 26 ayat (1) dan  (2) UU KDRT).

 

Meski demikian, pihak keluarga masih dapat melakukan tindakan lain untuk mencegah berlanjutnya kekerasan terhadap korban. Kewajiban masyarakat untuk turut serta dalam pencegahan KDRT ini diatur dalam Pasal 15 UU KDRT yaitu:  “Setiap orang yang mendengar, melihat, atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk:

a.   mencegah berlangsungnya tindak pidana;

b.   memberikan perlindungan kepada korban;

c.   memberikan pertolongan darurat; dan

d.  membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan.”

 

Sebaliknya, Apabila kekerasan yang dialmi oleh ibu RN tergolong berat, maka keluarga atau pihak lain yang melihat kejadian tersebut bisa melaporkan secara langsung kepada pihak kepolisian, terlebih apabila kekerasan fisik tersebut sampai mengancam jiwa korban. Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum, Wr.Wb.

 

 

 

 

 

Shared: